News Mamuju — Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) bergerak cepat menindaklanjuti laporan dugaan keracunan pangan yang terjadi di Kabupaten Mamuju. Kasus ini diduga berasal dari salah satu kegiatan pembagian makanan olahan dalam program Modern Bio Green (MBG) yang digelar di wilayah tersebut.

Puluhan warga dilaporkan mengalami gejala mual, muntah, dan pusing setelah mengonsumsi makanan yang dibagikan dalam kegiatan sosialisasi program pangan berkelanjutan MBG pada Selasa (21/10).
Baca Juga : Realisasi Pajak Hotel Mamuju Baru 25 Persen, Hanya Terkumpul Rp563 Juta dari Target Rp2,2 Miliar
Respons Cepat dan Investigasi Lapangan
Kepala Dinas Kesehatan Sulbar, dr. Hj. Rahmawati Idrus, mengatakan bahwa pihaknya telah membentuk tim investigasi cepat (rapid response team) yang turun langsung ke lokasi kejadian di Kecamatan Simboro, Mamuju. “Kami segera melakukan investigasi epidemiologis untuk memastikan sumber penyebab keracunan. Ini langkah awal agar kasus serupa tidak terulang,” ujarnya, Kamis (23/10).
Tim gabungan dari Dinkes Sulbar dan Dinkes Kabupaten Mamuju telah mengambil sampel makanan, minuman, dan muntahan korban untuk dilakukan uji laboratorium di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Makassar. Selain itu, tim juga melakukan wawancara dengan korban dan panitia kegiatan untuk menelusuri rantai distribusi makanan.
Puluhan Warga Jalani Perawatan
Berdasarkan data sementara, sebanyak 27 warga dilaporkan mengalami gejala ringan hingga sedang akibat dugaan keracunan tersebut. Sebagian besar korban sudah diperbolehkan pulang setelah mendapat perawatan medis di Puskesmas Mamuju.
“Tidak ada korban jiwa. Semua pasien sudah tertangani dengan baik oleh tim medis. Kami juga memastikan stok obat dan cairan infus cukup untuk penanganan darurat,” jelas Rahmawati.
Koordinasi dengan Pihak MBG dan Pemerintah Daerah
Dinas Kesehatan juga berkoordinasi dengan pengelola program MBG di Sulbar untuk mendapatkan klarifikasi dan memastikan seluruh proses produksi serta distribusi makanan memenuhi standar keamanan pangan.
“Kami tidak ingin berspekulasi sebelum hasil laboratorium keluar. Namun, kami minta pihak penyelenggara MBG memperketat pengawasan mutu bahan pangan yang dibagikan kepada masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, pihak MBG Sulbar melalui koordinator lapangan Andi Syarifuddin menyampaikan bahwa seluruh makanan dalam kegiatan tersebut berasal dari dapur produksi resmi yang telah memiliki izin edar. “Kami siap bekerja sama penuh dengan tim Dinkes untuk memastikan tidak ada kelalaian dalam proses penyajian,” ujarnya.
Langkah Pencegahan dan Edukasi Masyarakat
Sebagai tindak lanjut, Dinas Kesehatan Sulbar akan meningkatkan pengawasan keamanan pangan di setiap kegiatan yang melibatkan konsumsi massal, baik dari program pemerintah maupun swasta. Sosialisasi mengenai tata cara penyimpanan dan penyajian makanan yang aman juga akan dilakukan di tingkat desa dan kelurahan.
“Kesehatan masyarakat adalah prioritas. Setiap program besar seperti MBG harus memastikan aspek keamanan pangan benar-benar terjamin sebelum dikonsumsi publik,” tegas Rahmawati.
Menunggu Hasil Uji Laboratorium
Hasil uji laboratorium sampel makanan diperkirakan akan keluar dalam waktu 3–5 hari ke depan. Dinkes Sulbar menegaskan akan mengumumkan hasilnya secara terbuka agar masyarakat mendapat informasi yang jelas dan akurat.
“Kami berharap masyarakat tetap tenang. Pemerintah bekerja cepat dan transparan untuk memastikan keselamatan semua warga,” tutup Kepala Dinkes Sulbar.








